Contoh cerpen b indonesia tema perjuangan hidup
BENANG KEHIDUPAN DALAM GAJAH
Sudah kurang lebih dua belas tahun lamanya aku membantu ibuku berjualan, kini saatnya aku mandiri dengan melanjutkan dagangannya. “Bu, bagaimana jika Dimin saja yang berjualan, ibu istirahat saja di rumah?”, kataku membujuk ibu. “Benarkah kamu ingin melanjutkan dagangan ibu, nak?”, “Benar bu, Dimin sudah yakin. Lagipula ada adik yang membantu Dimin mencari rezeki.”, aku meyakinkan ibuku. “Baiklah nak, ibu serahkan semua padamu. Semoga engkau sukses nak.”, senyum harapan ibu mencairkan hatiku untuk bekerja lebih giat lagi.
Dua belas tahun lalu, aku memang sudah membantu ibu membanting tulang di SMA N 1 Purbalingga atau biasa disebut SMA Gajah karena bersimbol Dewa Ganesha. Aku membantunya jikalau ada waktu senggang. Walau hanya sekedar menata dagangan. Walau hanya sekedar memcuci piring. Walau hanya sekedar berberes-beres. Semua ku lakukan demi membantu keluarga mengarungi samudra kehidupan.
Sekarang Kantin Jeruk tempatku mengais benang-benang rezeki penyambung kehidupan sudah berpindah sebanyak tiga kali. Pemindahan ini terjadi karena mengikuti pembangunan sekolah yang mengalami renovasi. Namun keadaan itu tak pernah memadamkan kobaran api semangatku sebagai tulang punggung keluarga. Justru hal ini mendorongku agar aku sadar bahwa sekarang bukan hanya aku saja yang mencari penghidupan disini, tetapi ada 4 kantin lainnya yang juga berjuang demi kehidupan.
Karena kami sudah berkeluarga, maka aku dan adikku kini beratap yang berbeda. Kini aku berada di Kedung Menjangan, sedangkan adikku menyusun batu batanya di Kembaran Wetan. Walau begitu ia masih mengulurkan tangannya di tempat kami mencari penghidupan. Bahkan ia datang lebih dulu untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan.
Setiap pagi seusai fajar menyingsing, aku diantar suamiku yang juga bekerja di SMA Gajah sebagai satpam, ke pasar membeli bahan-bahan yang nantinya digunakan untuk mencari benang kehidupan. Disana, sudah ada penjual langgananku sehingga apa yang aku butuhkan, mereka sudah tahu. Namun sekarang, harga melambung cukup tinggi, membuatku sulit untuk mendapatkan yang murah bermutu. “Pak, bagaimana ini harga sedang meninggi? Apa yang harus kita lakukan?”, tanyaku pada suamiku. “Begini saja bu, lebih baik kita kurangi porsinya saja supaya nanti bisa digunakan lebih banyak lagi.”, jawab suamiku menegaskan. Ya begitulah. Memang sekarang harga-harga sedang tidak bersahabat. Tidak bisa diajak kompromi. Tidak bisa diajak berdamai. Terutama daun cesim, daging ayam, lombok. Aku harus memutar otak bagaimana agar tetap mendapatkan keuntungan. Belum lagi jika ada siswa yang tidak membayar. Ketambahan ada siswa yang berhutang, membuat keuangan tersendat tak lancar bak parit berisi bongkahan batu pondasi. Sudah begitu, belum tahu nantinya para siswa akan pulang seperti jam biasa atau akan lebih awal. Coba saja kalau lebih awal. Apa yang sudah disiapkan pasti tidak laku terjual. Tidak termakan. Mubah. Rugi.
Pernah sempat terlintas di benakku untuk menambah variasi menu makanan. Alhasil kulakukan. Namun hasil tak seperti harapan. Banyak siswa yang kurang menyukainya. Mungkin karena masih baru. Atau mungkin memang mereka tidak suka. Atau mungkin malah masakanku yang tak menggoyangkan lidah. Akhirnya ada beberapa pelanggan yang berpaling dariku. Hatiku bagai tertusuk duri yang terbuat dari baja. Membuatku sempat jatuh dan kesal.
Namun semua itu tak pernah padamkan semangatku, tak pernah membuatku mundur, tak pernah buatku terpuruk. Justru aku harus bangkit dan terus mengobarkan api semangat mengais benang-benang penyambung kehidupan. Aku harus mencari dan mengolah bahan lain agar dapat menghasilkan benang yang kuat tak mudah putus. Atas mesin dorongan banyak pihak terutama suamiku dan adikku, aku bangkit kembali menenun benang-benang untuk kujadikan kain yang kugunakan sebagai pelindung dan kelangsungan kehidupan.
Kini aku sudah bangkit. Aku sudah mendapatkan kembali pelangganku. Ini semua bukan hanya usaha keringatku saja, melainkan uluran tangan banyak pihak yang menaruh harapannya agar aku dapat tetap bangkit dan menjadi sukses seperti sekarang. Dan begitulah hidup. Begitulah berusaha. Begitulah terjatuh. Kadang kita berada di atas dan kadang kita berada di bawah. Syukurilah apa yang ada karena hidup adalah anugerah.
Sudah kurang lebih dua belas tahun lamanya aku membantu ibuku berjualan, kini saatnya aku mandiri dengan melanjutkan dagangannya. “Bu, bagaimana jika Dimin saja yang berjualan, ibu istirahat saja di rumah?”, kataku membujuk ibu. “Benarkah kamu ingin melanjutkan dagangan ibu, nak?”, “Benar bu, Dimin sudah yakin. Lagipula ada adik yang membantu Dimin mencari rezeki.”, aku meyakinkan ibuku. “Baiklah nak, ibu serahkan semua padamu. Semoga engkau sukses nak.”, senyum harapan ibu mencairkan hatiku untuk bekerja lebih giat lagi.
Dua belas tahun lalu, aku memang sudah membantu ibu membanting tulang di SMA N 1 Purbalingga atau biasa disebut SMA Gajah karena bersimbol Dewa Ganesha. Aku membantunya jikalau ada waktu senggang. Walau hanya sekedar menata dagangan. Walau hanya sekedar memcuci piring. Walau hanya sekedar berberes-beres. Semua ku lakukan demi membantu keluarga mengarungi samudra kehidupan.
Sekarang Kantin Jeruk tempatku mengais benang-benang rezeki penyambung kehidupan sudah berpindah sebanyak tiga kali. Pemindahan ini terjadi karena mengikuti pembangunan sekolah yang mengalami renovasi. Namun keadaan itu tak pernah memadamkan kobaran api semangatku sebagai tulang punggung keluarga. Justru hal ini mendorongku agar aku sadar bahwa sekarang bukan hanya aku saja yang mencari penghidupan disini, tetapi ada 4 kantin lainnya yang juga berjuang demi kehidupan.
Karena kami sudah berkeluarga, maka aku dan adikku kini beratap yang berbeda. Kini aku berada di Kedung Menjangan, sedangkan adikku menyusun batu batanya di Kembaran Wetan. Walau begitu ia masih mengulurkan tangannya di tempat kami mencari penghidupan. Bahkan ia datang lebih dulu untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan.
Setiap pagi seusai fajar menyingsing, aku diantar suamiku yang juga bekerja di SMA Gajah sebagai satpam, ke pasar membeli bahan-bahan yang nantinya digunakan untuk mencari benang kehidupan. Disana, sudah ada penjual langgananku sehingga apa yang aku butuhkan, mereka sudah tahu. Namun sekarang, harga melambung cukup tinggi, membuatku sulit untuk mendapatkan yang murah bermutu. “Pak, bagaimana ini harga sedang meninggi? Apa yang harus kita lakukan?”, tanyaku pada suamiku. “Begini saja bu, lebih baik kita kurangi porsinya saja supaya nanti bisa digunakan lebih banyak lagi.”, jawab suamiku menegaskan. Ya begitulah. Memang sekarang harga-harga sedang tidak bersahabat. Tidak bisa diajak kompromi. Tidak bisa diajak berdamai. Terutama daun cesim, daging ayam, lombok. Aku harus memutar otak bagaimana agar tetap mendapatkan keuntungan. Belum lagi jika ada siswa yang tidak membayar. Ketambahan ada siswa yang berhutang, membuat keuangan tersendat tak lancar bak parit berisi bongkahan batu pondasi. Sudah begitu, belum tahu nantinya para siswa akan pulang seperti jam biasa atau akan lebih awal. Coba saja kalau lebih awal. Apa yang sudah disiapkan pasti tidak laku terjual. Tidak termakan. Mubah. Rugi.
Pernah sempat terlintas di benakku untuk menambah variasi menu makanan. Alhasil kulakukan. Namun hasil tak seperti harapan. Banyak siswa yang kurang menyukainya. Mungkin karena masih baru. Atau mungkin memang mereka tidak suka. Atau mungkin malah masakanku yang tak menggoyangkan lidah. Akhirnya ada beberapa pelanggan yang berpaling dariku. Hatiku bagai tertusuk duri yang terbuat dari baja. Membuatku sempat jatuh dan kesal.
Namun semua itu tak pernah padamkan semangatku, tak pernah membuatku mundur, tak pernah buatku terpuruk. Justru aku harus bangkit dan terus mengobarkan api semangat mengais benang-benang penyambung kehidupan. Aku harus mencari dan mengolah bahan lain agar dapat menghasilkan benang yang kuat tak mudah putus. Atas mesin dorongan banyak pihak terutama suamiku dan adikku, aku bangkit kembali menenun benang-benang untuk kujadikan kain yang kugunakan sebagai pelindung dan kelangsungan kehidupan.
Kini aku sudah bangkit. Aku sudah mendapatkan kembali pelangganku. Ini semua bukan hanya usaha keringatku saja, melainkan uluran tangan banyak pihak yang menaruh harapannya agar aku dapat tetap bangkit dan menjadi sukses seperti sekarang. Dan begitulah hidup. Begitulah berusaha. Begitulah terjatuh. Kadang kita berada di atas dan kadang kita berada di bawah. Syukurilah apa yang ada karena hidup adalah anugerah.
Belum ada Komentar untuk "Contoh cerpen b indonesia tema perjuangan hidup "
Posting Komentar